Selasa, 15 Maret 2011

karya tulis

PERANAN KERATON CIREBON
TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM
Karya Tulis ini di susun untuk memenuhi salah satu syarat
kenaikan kelas III Madrasah aliyah Negri 1 Kota Magelang
Tahun Ajaran 2009 / 2010










Di susun oleh:
Khoiru Rozikin (NIS : 4183)

Kelas II Agama



MADRASAH ALIYAH NEGRI 1 KOTA MAGELANG
JL. Raya Payaman No. 1
MAGELANG


PENGESAHAN

Laporan Study Tour dengan judul PERANAN KERATON CIREBON TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM ini yang di laksanakan pada tanggal 11 – 13 Desember 2010 telah diuji dan disyahkan pada :



Hari :
Tanggal :



















Oleh

Penguji Pembimbing




…………………… Syarif Hidayatullah, S.Ag
NIP:……….……..……….. NIP. 19730605 200312 1 3 002

Mengetahui
Waka Kurikulum




Drs. Martono
NIP. 19640315 199203 1 003




MOTTO

1. Apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. (asy-Syuura:30)
2. Apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. an-Nisaa: 79)
3. Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7)
4. “Banyak bersikap diam adalah keindahan yang menghiasi orang yang berakal dan rahasia yang menutup-nutupi orang bodoh” (Ulama)
5. “Barangsiapa yang memegang kuasa tentang sesuatu urusan kaum muslimin, lalu dia memberikan suatu tugas kepada seseorang, sedangkan dia mengetahui bahwa ada orang yang lebih baik daripada orang itu, dia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan kaum muslimin.” (Hadis Riwayat Al-Hakim)
6. “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min: 60).


































PERSEMBAHAN

Karya tulis ini penulis persembahkan kepada :

1. Drs. H. Sedyoko, M.Pd selaku kepala Madrasah Aliyah Negri 1 kota Magelang
2. Bapak Syarif Hidayatullah,S.Ag selaku pembimbing dan walikelas II agama
3. Para staf Dewan Guru beserta karyawan dan karyawati MAN 1 Kota Magelang
4. Bapak dan Ibu tercinta di rumah yang selalau mendorong baik moril dan sepiritual
5. Teman – teman di kelas II agama yang penulis banggakan
6. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun karya tulis
7. Pembaca yang budiman








































KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. Wb

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan petunjukNya, sehingga atas limpahanan rahmad dan petunjukNya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini tanpa ada halangan suatu apapun.
Karya tulis ini kami susun secara kolektif dengan mengumpulkan data-data yang telah diperoleh beberapa minggu yang lalu perjalanan ke makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Cirebon. Dengan demikian semua pihak bias secara aktif mengembangkan pendapat – pendapatnya dari hasil perjalanan tersebut. Kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Namun penulis menyadari bahwa karya tulis ini jauh dari sempurna, maka segenap saran dan kritik yang bersifat membangun penulis harapkan demi peningkatan dari karya tulis ini.
Akhirnya penulis berharap mudah – mudahan karya tulis ini bias bermanfaat bagi penulis khususnya, dan para pembaca umumnya.

Wassalamu’alaikum wr. Wb



















Magelang, 18 Desember 2010



Penulis







DAFTAR ISI

Halaman judul…………………………………………………………………………i
Halaman pengesahan………………………………………………………………….ii
Halaman motto………………………………………………………………………..iii
Halaman persembahan………………………………………………………………..iv
Kata pengantar………………………………………………………………………...v
Daftar isi………………………………………………………………………………vi

BAB I
Pendahuluan…………………………………………………………………………...1
BAB II
Gambaran Umum Lokasi Kunjungan…………………………….……………………2
A. Lokasi kunjungan………………………………………………………………2
B. Alasan memilih lokasi kunjungan………………………………………………2
C. Waktu kunjungan……………………………………………………………….2
BAB III
Isi………………………………………………………………………………………3
A. Sejarah Walisongo…………………………………………………………….……3
B. Sejarah Singkat Tokoh – Tokoh Walisongo………………………………………..4
1. Maulana MAlik Ibrahim………………………………………………………...4
2. Sunan Ampel……………………………………………………………………5
3. Sunan Bonang……………………………………………………………….......5
4. Sunan Drajat………………………………………………...…………………..6
5. Sunan Kudus………………………………………………………...…………..6
6. Sunan Giri…………………………………………………………...…………..6
7. Sunan Kalijaga………………………………………………………...………...6
8. Sunan Muria………………………………………………………………..…...7
9. Sunan Gunung Jati…………………………………………………………...….7
C. Sejarah Cirebon…………………………………………………………………...7
D. Sejarah Sunan Gunung Jati……………………………………………………..….7
E. Perkembangan Awal………………………………………………………………10
F. Masa Kesultanan……………………………………………………………….….11
1. Pangeran Cakrabuana (…. – 1479)
2. Sunan Gunungjati (1479 – 1568)
3. Fatahillah (1568 – 1570)
4. Panembahan Ratu I (1570 – 1649)
5. Panembahan Ratu II (1649 – 1677)
G. Terpecahnya kesultanan Cirebon…………………………………………………12
H. Masa colonial dan kemerdekaan………………………………………………….13
I. Perkembangan terakhir…………………………………………………………….14
BAB IV
Penutup………………………………………………………………………………15
A. Simpulan
B. Saran – saran
C. Penutup

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul
Sesuai dengan objek yang penulis kunjungi, maka penulis dengan sengaja memilih judul “PERANAN KERATON CIREBON TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM” dengan berbagai alasan berikut ini :
• Rasa ingin tahu penulis mengenahi seorang penyebar agama islam
• Adanya sesuatu yang penting untuk di tuangkan dalam sebuah karya tulis
• Penulis ingin menyampaikan kepada pembaca tentang pekembangan islam.

Dalam karya tulis ini penulis akan membahas tentang PERANAN KERATON
CIREBON TERHADAP PERKEMBANGAN ISLAM.


B. Tujuan Penulisan
Tujuan utama dalam pembuatan karya tulis ini adalah untuk memenuhi persyaratan kenaikan kelas III pada Madrasah Aliyah Negri 1 Kota Magelang 2009 / 2010.
Adapun tujuan lain adalah
*) Untuk menambah wawasan tentang perkembangan islam di Cirebon pada masa itu
*) Agar para pembaca mengetahui tentang sejarahperkembangan islam

C. Sistematika Penulisan
Untuk lebih memudahkan dalam mempelajari karya tulis ini, penulis menyajikan dan membaginya dalam beberapa bab secara urut :
Bab I : Pendahuluan
Berisi alsan pemilihan judul, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan
Bab II : Gambaran umum lokasi penulisan
Berisi lokasi kunjungan, Alasan memilih lokasi kunjungan, Waktu kunjungan
Bab III : Isi yang meliputi
Sejarah Cirebon, Perkembangan awal ki Gedeng Tapa dan Ki Gedeng Alang –
alang,
Masa kesultanan Cirebon (pakungwati), Pangeran Cakrabuana (…. – 1479),
Sunan
Gunungjati (1479 – 1568), Fatahillah (1568 – 1570), Panembahan Ratu I (1570 – 1649),
Panembahan Ratu II (1649 – 1677), Terpecahnya kesultanan Cirebon, Masa
Colonial
dan kemerdekaan, Perkembangan terakhir.
Bab IV : Penutup
Berisi kesimpulan, kritik dan saran








BAB II
Gambaran Umum Lokasi Kunjungan

A. Lokasi kunjungan

Kota yang berada diperbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini memiliki beberapa objek wisata yang cukup menarik, antara lain Makam Sunan Gunung Jati dan galeri kerajinan tangan khas Cirebon. Makam sunan Gunung Jati terletak di Cirebon Jawa Barat, di mana sunan Gunung Jati itu termasuk salah satu wali 9 penyebar agama islam di tanah Jawa. Berdasarkan catatan sejarah, pada abad ke-15 dan 16 Masehi, Cirebon merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antarpulau. Akibatnya, Cirebon menjadi “Jembatan” antara kebudayaan Jawa dan Sunda, sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas. Bukan Jawa dan bukan pula Sunda.

B. Alasan memilih lokasi

Ada beberapa alasan mengapa penulis memilih lokasi penelitian makam sunan
Gunung Jati yang terletak di Cirebon Jawa Barat :
1. Memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan tentang sejarah perkembangan islam di Cirebon
2. Kota Cirebon mempunyai banyak objek wisata Religi yang sangat menarik untuk di pelajari
3. Dapat menambah khasanah hidup beragama

C. Waktu Kunjungan

Waktu kunjungan di makam Sunan Gunung Jati di Cirebon pada hari minggu pukul 02.00 pagi, setelah sampai di lokasi kami langsung menuju makam Sunan Gunung Jati untuk berziarah terlebih dahulu, namu sebelum itu kami di persilahkan dahulu untuk mengambil air wudlu pada tempat yang telah di sediakan. Setelah itu kami melakukan istighosah yang di pimpin oleh salah satu ulama’ yang ikut serta dalam kunjungan ziarah tersebut.

















BAB III
ISI

A. Sejarah Walisongo

Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
Pendapat lain yang mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah).[1] Saat itu, majelis dakwah Walisongo beranggotakan Maulana Malik Ibrahim sendiri, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil Kubro (Sunan Kubrawi); Maulana Muhammad Al-Maghrabi (Sunan Maghribi); Maulana Malik Isra'il (dari Champa), Maulana Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana 'Aliyuddin, dan Syekh Subakir.
Dari nama para Walisongo tersebut, pada umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang paling terkenal, yaitu:
• Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim
• Sunan Ampel atau Raden Rahmat
• Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim • Sunan Drajat atau Raden Qasim
• Sunan Kudus atau Ja'far Shadiq
• Sunan Giri atau Raden Paku atau Ainul Yaqin • Sunan Kalijaga atau Raden Said
• Sunan Muria atau Raden Umar Said
• Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.


B. Sejarah Singkat Tokoh – Tokoh Walisongo
1. Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo .
Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim
Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut catatan Dari As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume (jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa bin Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Nabi Muhammad Rasulullah
Ia diperkirakan lahir di Provinsi Samarqand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy. Meinsma, J.J., 1903. Serat ''Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647''. S'Gravenhage. Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal.
Isteri Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama:
1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah
2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad
3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.
Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq Sunan Kudus.
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan Gresik Jawa Timur.
2. Sunan Ampel
Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad, menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putrid Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir Dari Dinasti Ming.
Nasab lengkapnya sebagai berikut: Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.
Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, [[Surabaya]], dan merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning.
Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo, berputera: Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah.
Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan Lamongan,Raden Zainal Abidin (Sunan Demak),Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah suluk ''Wijil'' dan tembang ''Tombo Ati'', yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa bernama ''Het Boek van Bonang'' atau ''Buku Bonang''. Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525.
4. Sunan Drajat
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang ''macapat'' ''Pangkur'' disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat wafat pada 1522.
5. Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.
6. Sunan Giri
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.
7. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk ''Ilir-Ilir'' dan ''Gundul-Gundul Pacul'' umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.
8. Sunan Muria
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus.
9. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Kerajaan Pajajaran Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.
C. Sejarah Cirebon
Menurut ''Sulendraningrat'' yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah ''Carita Purwaka Caruban Nagari'', Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama ''Caruban'' (Bahasa Sunda campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang. Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (''belendrang'') dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan ''cai-rebon'' (Bahasa Sunda: air rebon) yang kemudian menjadi ''Cirebon''. Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.
D. Sejarah Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati bernama '''Syarif Hidayatullah''', lahir sekitar tahun 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Husain bin Ali Imam Husain. Ibunda Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Sunan Gunung Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Makam Nyai Rara Santang bisa kita temui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor.

Silsilah
.Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan bin
.Sayyid 'Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
.Sayyid 'Ali Nuruddin Al-Khan @ 'Ali Nurul 'Alam bin
.Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
.Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
.Sayyid Abdullah Al-'Azhomatu Khan bin
. Sayyid Amir 'Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
.Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
.Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)bin
.Sayyid Ali Kholi' Qosim bin
.Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
.Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
.Sayyid Alawi Awwal bin
.Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah bin
.Ahmad al-Muhajir bin
.Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi bin
.Sayyid Muhammad An-Naqib bin
.Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
.Sayyidina Ja'far As-Sodiq bin
.Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
.Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin bin
.Al-Imam Sayyidina Hussain
.Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti [[Muhammad]]

Silisilah dari Pajajaran
.Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah
.Rara Santang (Syarifah Muda'im)
.Prabu Jaya Dewata @ Raden Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi II
.Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali)
.Niskala Wastu Kancana @ Prabu Siliwangi I
.Prabu Linggabuana @ Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat)

Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar Agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam. Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat. Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Tentang personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik, dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya. Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut. Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama (Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di P. Jawa. Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur. Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P. Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam. Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah. Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya. Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayatullah adalah dalam riwayat jatuhnya Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang. Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar. Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan. Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan. Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji. Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.
E. Perkembangan Awal
Ki Gedeng Tapa

Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.



Ki Gedeng Alang-Alang

Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana.
F. Masa Kesultanan Cirebon
1. Pangeran Cakrabuana (…. –1479)

Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara. Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang - ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang. Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

2. Sunan Gunung Jati (1479-1568)

Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai ''Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah''. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.


3. Fatahillah (1568-1570)

Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

4. Panembahan Ratu I (1570-1649)

Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.

5. Panembahan Ratu II (1649-1677)

Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II. Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram. Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Makamnya di Jogjakarta, di bukit Girilaya, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri, Bantul Imogiri, Kabupaten Bantul. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Girilaya, tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.

G. Terpecahnya Kesultanan Cirebon

Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

Perpecahan I (1677)

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton.
Crebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:

1. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
2. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
3. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai ''kaprabonan'' (''paguron''), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dlam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.

Perpecahan II (1807)

Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan. Khendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya ''besluit'' (Bahasa Belanda Surat keputusan) ubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

H. Masa kolinial dan kemerdekaan

Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar. Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati.

I. Perkembangan terakhir

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kesultanan Cirebon turut serta dalam berbagai upacara dan perayaan adat masyarakat dan telah beberapa kali ambil bagian dalam Festival des cours royals di Indonésie Festival Keraton Nusantara (FKN). Umumnya, Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting karena merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529, sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622, dan yang terkemudian adalah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan. Pada awal bulan Maret 2003, telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman, antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin, untuk pengangkatan tahta Sultan Kanoman XII. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut.















BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan laporan lapangan perjalanan dan kunjungan ke makam Sunan Gung jati ini penulis dapat mengancal beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Sejarah Cirebon
Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama ''Caruban''. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (''belendrang'') dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan ''cai-rebon'' (Bahasa Sunda: air rebon) yang kemudian menjadi ''Cirebon''
2. sejarah sunan gunung jati
Sunan Gunung Jati bernama '''Syarif Hidayatullah''', lahir sekitar tahun 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Ibunda Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Sunan Gunung Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang.
3. perkembangan awal
Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang.
4. Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati)
Pangeran Cakrabuana (…. –1479), Sunan Gunung Jati (1479-1568), Fatahillah (1568-1570), Panembahan Ratu I (1570-1649), Panembahan Ratu II (1649-1677).
5. Terpecahnya Kesultanan Cirebon
Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
6. masa kolinial dan kemerdekaan
Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya.
7. Perkembangan terakhir
Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam.







B. Penutup

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah segala puji bagi kami haturkan kepada Allah SWt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga karya tulis ini dapat selesai sebagai mana mestinya dapat berguna bagi kita semua. Akhirnya penulis minta maaf yang sebesar – besarnya atas kesalahan dan segala kekuranuan yang sangat sekali tidak penulis sengaja kesalahannya, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya ini penulis ucapkan banyak terima kasih yang sebesar – besarnya sedangkan penulis tidak dapat memberikan apa – apa kepada pihak yang telah membantu penulis, akan tetapi penulis yakin bahwa keikhlasan dalam membantu menyelesaikan karya ini Allah SWT akan mengganti kebaikan pembatu yang sebesar – besarnya.
Amiiiiinnnnn…..





































DAFTAR PUSTAKA

Adapun daftar pustaka penulis gunakan sebagai sumber laporan ini adalah :
1) WWW.GOOGLE.COM
2) BUKU PANDUAN “SEKITAR KOMPLEK MAKAM SUNAN GUNUNG JATI DAN SEKILAS RIWAYATNYA”
3) http://erdwords.blogspot.com/2009/03/kata-kata-bijak-4.html
4) http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon
5) http://www.google.co.id/images?hl=id&biw=1280&bih=578&gbv=2&tbs=isch%3A1&sa=1&q=gunung+jati&aq=f&aqi=&aql=&oq=
6) http://roycahsweetness.blogspot.com/

Jumat, 11 Februari 2011

Aqidah Akhlak

1. Hasan Al Basri

Nama lengkapnya al Hasan bin Ai al Hasan Abu Sa’id. Dia dilahirkan di Madinah pada tahun 221 Hijriah/642 Masehi dan meninggal di Basrah pada tahun 110 H/728 M. ia adalah putra Zaid bin Tasabit, seorang budak yang tertangkap di Maisan, yang kemudian menjadi sekretris Nabi Muhammad Saw. Ia memperoleh pendidikan di Basrah. Ia sempat bertemu dengan sahabat-sahabt Nabi, termasuk tujuh puluh di antara mereka adalah yang turut serta dalam perang Badr.
Ibunya adalah hamba sahaya Ummu Salamah, istri Nabi. Ia tumbuh dalam lingkungan orang saleh yang mendalam pengetahuan agamanya.
Hasan Al Basri tumbuh menjadi seorang tokoh diantara tokoh-tokoh yang paling terkemuka pada zamannya, dan ia termashur karena kesalehan dan keberaniannya. Secara blak-blakkan ia membenci sikap kalangan atas yang hidup berpoya-poya. Sementara teolog-teolog dari kalangan muktazilah memandang Hasan sebagai pendiri mashabnya Amr bin Ubaid dan Wasil bin Atha adalah dua di antara murid-muridnya. Sedangkan dalam jajaran sufi, ia diakui sebagai salah satu tokoh yang paling besar pada masa awal sejarahnya. Ia dikenal juga sebagai orator piawai sehingga berbagai kata dan ungkapan yang disampaikannya, banyak dikutip oleh pengarang-pengarang Arab dan tidak sedikit di anatara surat-suratnya yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang dan terpelihara rapi.
Hasan Al Basri adalah seorang zahid yang termasyhur di kalangan tabi’in. prinsip ajarannya yang berkaitan dengan hidup kerohanian senantiasa diukurnya dengan sunnah Nabi, bahkan beliaulah yang mula-mula memperbincangakan berbagai masalah yang berkaitan dengan hidup kerohanian, tenang ilmu akhlak yang erat hubungannya dengan cara mensucikan jiwa dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela.
Dasar pendirian HasanAl Basri adalah hidup zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahan, hanya semata menuju kepada Allah, tawakal, khauf dan raja’. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Allah. Tetapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkanya, tetapi mengaharp akan rahmatnya.
Al Taftazani mengatakan konsep zuhud Hasan Al Basri berdasarkan rasa takut yang mendalam kepada Allah Swt. Mengenai hal ini, Al Sya’rani dalam kitabnya At Tabaqat berkata : “ Dia penuh diliputi rasa takut sehingga neraka seakan di ciptakan untuk dirinya seorang” sedang Ibn Abi Al Hadid dalam Nahj Al Balagah menulis sebagai berikut : “jika seorang menemui Hasan Al Basri, dia pasti mengira Hasan sedang tertimpa suatu musibah. Hal ini karena rasa sedih dan rasa takutnya.”
Kemudian ucapan-ucapan beliau yang lain, sebagaimana di kutip Prof.Dr.Hamka, adalah sebagai berikut :
- “Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati tentram, lebih baik dari pada perasaan tentrammu dari pada kemudian menimbulkan takut”
- “Tafakur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat, membawa kepada meninggalkannya. Barang yang fana walaupun bagaimana banayaknya, tidaklah dapat menyamai barang yang baqa, walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari negri yang cepat dating dan cepat pergi ini, dan penuh dengan tipuan”
- “Dunia ini adalah seorang perempuan janda tua yang telah bongkok”
- “Orang yang beriman berduka cita pagi-pagi dan berduka cita di waktu sore. Karena dia hidup diantara dua ketakutan. Takut mengenang dosa yang telah lampau, apakah gerangan balasana yang akan ditmpakan Tuhan. Dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal dan bahaya yang sedang mengancam
- “Patutlah orang Insyaf bahwa mati sedang mengancamnya dan kiamat menagih janjinya.”
- “Banyak berduka cita di dunia memperteguh semangat beramal saleh.
Dalam hubungan ini Dr Muhammad Mustafa Helmi, sebagai mana dikutip Prof. Dr. hamka, mengatakan bahwa zuhud beliau itu, yang didasarkan kepada takut, ialah karena takut akan siksaaan Tuhan dalam Neraka. Tetapi setelah di telaah lebih dalam, kata Hamka, ternyata bukanlah takut akan neraka itu yang menjadi sebab. Yang menjadi sebab ialah perasaan dari orang yang berjiwa besar akan kekuranagn dan kelalaian diri. Itulah sebabnya lebih tepat dikatakan bahwa dasar zuhud Hasan Al Basri bukanlah takut akan amsuk neraka, tetapi takut akan murka Tuhan. Dalam hal seperti ini, orang kadang-kadang bersikaf, biarlah masuk neraka, dari pada kena murka.

2. Rabi’ah al Adawiyah
Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah. Informasi tentang biografinya begitu sedikit, dan sebagiannya hanya bercorak mitos. Dia lahir di Bashrah pada tahun 96 H / 713 M, lalu hidup sebagai hamba sahaya keluarga Atik. Dia berasal dari keluarga miskin, dan dari kecil ia tinggal di kota kelahirannya. Dikota ini namanya sangat harum sebagai manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang shaleh semasanya. Menurut sebuah riwayat dia meninggal pada tahun 185 H / 801 M. Orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan didekat kota Jerussalem.
Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah, dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta (al-hubb) khas sufi kedalammistisisme dalam islam. Sebagai seorang zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria shaleh.
Diantara ucapannya yang terkenal tentang zuhud ialah – sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hujwiri dalam kitabnya al-Kasyf al-Mahjub :
“suatau ketika aku membaca cerita bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah : ‘ Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu! ‘Rabi’ah menjawab : ‘aku ini begitu malu memenita hal-hal duniawi kepada pemeliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepda orang yang bukan pemiliknya?”
Seperti telah disinggung diatas, isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, ia mengabdi melakukan amal soleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi akan cintanya kepada Allah,. Cintanya lyang mendorongnya yang inggin selalu dekat dengan Allah, dan cinta itu pulalah yang embuat ia sedih dan menangis karena takut terpisah dari yang dicintainya. Pendek kata, Allah baginya merupakan dzat yang dicintai, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Karena seluruh lorong hatinya telah di penuhi cinta ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci yang lain. Seseorang pernah bertanya kepadanya : “ Apakah kau benci kepada setan?” Ia menjawab : “ Tidak, cinta ku kepada Tuhan tidak meninggalklan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada setan.” Karena begitu cintanya kepda Tuhan, Ia pernah ditanaya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw ia menjawab : “ saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada pencipta memalingkan diriku dari cintaku kepada makhluk.”
Inilah beberapa ucapan rasa cinta yang diunghkapkan oleh Rabi’ah Al Adawiah. Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwa nya, sehingga – seperti telah disebutkan diatas – ia menolak seluruh tawaran kawin denagan alasan bahwa dirinya adalah milik Allah, yang dicintainya; dan siapa yang ingin kawin dengannya haruslah meminta ijin kepada Allah. Dengan demikian, menurut Altaftazani, dapat disimpulkan bahawa Rabi’ah Al Adawiah, pada abad 2 H, telah merintis konsep zuhud dalam islam berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi, ia tidak hanay berbicara cinta ilahi, namun juga menguraikan ajaran-ajaran taswuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, ridho dan lain sebagainya.
3. Abu yazid al bustami
Beliau mempunyai nama lengkap Abu Yazid Thaifur bin Isa, beliau dilahirkan di Bustham Khurasan pada tahun 188 Hijriyah dan beliau lebih dikenal dengan nama Abu Yazid Al Busthami. Beliau wafat di Bustham pada tahun 261.
Abu Yazid dikenal sebagai anak saleh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Ibunya dengan tekun membimbing dan megirimnya untuk belajar agama ke masjid. Setelah dewasa beliau melanjutkan belajar agama ke berbagai daerah untuk berguru kepada ulama-ulama terkenal seperti Abu Ati dari Sind.
Kehidupannya sebagai seorang sufi ditempuh dalam perjalanan yang cukup panjang, kira-kira dalam waktu 30 tahun beliau berkelana menyusuri padang pasir, hidup dengan zuhud, makan serba sedikit, tidur yang tidak begitu banyak. Dari kezuhudannya itu beliau dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ma’rifat yang hakiki untuk dapat mengenal Allah.
4. al hallajj
A. Biografi
Nama lengkapnya adalah Abu al-Mughits al-Husein bin Mansur bin Muhammad
Al-Badawi . Beliau dilahirkan sekitar tahun 244 H (858 M) di Thus dekat Baida (Parsi) , sekarang berada di wilayah Barat Daya Iran. Ia dibesarkan di Wasit dan Tustar yang dikenal sebagai tempat perkebunan kapas dan tempat tinggal para penyortir kapas .
Pada masa remaja ia menetap di Tustar dan berguru pada Sahl ibn Abdullah at-Tustariy (wafat 896 M/ 282 H), seorang sufi terkenal yang pernah belajar pada Sufyan at-Tsaury (Wafat 778 M/ 161 H) . Dua tahun kemudian ia meninggalkan gurunya at-Tastury dan pindah ke Basrah dengan alasan yang tidak jelas. Louis Massiqnon menyebutkan bahwa Sahl at-Tustury adalah guru pertama al-Hallaj dalam tasawuf yang mengajarinya tentang kecintaan dan kesederhanaan sufi, menyenangi kesunyian dan kebersihan jiwa serta tafsir al-Qur’an .
Sehabis belajar dengan Tusturi, dia berangkat ke Bashrah dan belajar kepada Shufi ‘Amar Al-Maliki, di tahun 264 H (878 M). Dia masuk ke kota Baghdad dan belajar kepada Al-Junaid. Dalam konteks umum, Baghdad di akhir abad 3/9, awal 4/10 adalah sebuah tempat yang menggairahkan dan berbahaya : bagi kaum mistikus yang tidak lebih kecil daripada kaum politikus dan pujangga, banker dan pemikir, hakim dan ahli tulis, kaum tradisonalis dan filsuf . Setelah itu dia pun pergilah mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain, menambah pengetahuan dan pengalaman dalam Ilmu Tasawuf. Sehingga tidak ada lagi seorang Syekh ternama, semua telah dijelangnya dan dimintanya fatwa dan tuntunannya. Dan tiga kali dia telah naik Haji ke Mekkah. Dalam perjalanannya dan pertemuannya dengan ahli-ahli sufi itu, timbulah pribadi dan pandangan hidupnya sendiri sehingga dalam usia 53 tahun ia telah menjadi pembicaraan ulama pada waktu itu karena paham tasawufnya yang berbeda dengan yang lain. Karena pahamnya itu, seorang ulama fiqh terkemuka , Ibnu Daud Al-asfahani mengelurkan fatwa yang mengatakan bahwa ajaran Al-hallaj sesat. Atas dasar fatwa ini al-Hallaj dipenjarakan. Tetapi setelah satu tahun di dalam penjara, dia dapat melarikan diri dengan pertolongan seorang penjaga yang menaruh simpati kepadanya.
Dari Baghdad melarikan diri ke Sus dalam wilayah Ahwas. Disanalah dia bersembunyi empat tahun lamanya, dengan tidak merubah pendirian dan pandangan hidupnya. Akhirnya di tahun 301 (903 M) dapat juga dia ditangkap kembali, dimasukan pula ke dalam penjara sampai delapan tahun lamanya. Akhirnya pada tahun 301 H (903 M) diadakanlah persidangan ulama di bawah kerajaan Bani Abbas di masa khalifah al-Muktadirbillah. Pada tanggal 18 Zulkaidah 309 H jatuhlah hukuman kepadanya. Dia dihukum bunuh dengan cemeti, lalu disalib, sesudah itu dipotong kedua tangan dan kakinya, dipenggal lehernya dan ditinggalkan tergantung pecahan-pecahan tubuh itu di pintu gerbang kota Baghdad. Kemudian di bakar dan abunya dihanyutkan ke sungai Dajlah.
Al-hallaj adalah seorang alim dalam ilmu agama islam. Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Suraij, ia adalah seorang yang hafal Al-Qur’an dan surat dengan pemahamannya, menguasai ilmu fiqh dan hadits, serta tidak diragukan lagi keahliannya dalam ilmu tasawuf. Dia adalah seorang zahid yang terkenal pada masanya, dan banyak lagi sifat-sifat kesalehannya. Keahlian dan kepribadiannya yang demikian itulah yang menjadikannya mampu melahirkan karya-karya gemilang, terutama tentang tasawuf.
Tentang karya-karya al-Hallaj, menurut Ibnu Nadim mencatat bahwasanya karangannya tidak kurang dari 47 buah banyaknya. Sebagian daripadanya adalah :
• Al Ahruful muhaddasah, wal azaliyah, wal asmaul kulliyah.
• Kitab Al Ushul wal Furu’.
• Kitab Sirrul ‘Alam wal mab’uts.
• Kitab Al ‘Adlu wat Tauhid.
• Kitab ‘Ilmul Baqa dan Fana.
• Kitab Madhun Nabi wal Masaul A’laa.
• Kitab “Hua, Hua”.
• Kitab At Thawwasin.
Kedelapan kitab ini adalah yang terpenting di antara 47 kitab itu, dan kitab At- Thawasin merupakan kitabnya yang paling jelas menggambarkan tentang paham tasawufnya. Susunan bahasanya sangat sulit dipahami, sehingga kata Al-Taftazani mungkin banyak pembaca tidak mengerti apa yang dimaksudkan penulisnya. Disamping itu, kitab itu berisi rumus-rumus dan istilah-istilah yang tidak gampang dimengerti.
B. Ajaran Al-Hallaj : Al-Huluul
Secara harfiah hulul berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana. Menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi dalam al-Luma’ Sebagai dikutip Harun Nasution, adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan. Di dalam teks arab pernyataan tersebut berbunyi :

إ ن الله ا صطفى ا جسا ما حل فيها بمعا نى الر بو بية و ا زا ل عنها معا نى البشر ية.

“Sesungguhnya Allah memilih jasad-jasad (tertentu) dan menempatinya dengan makna ketuhanan (setelah) menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan.”
Paham bahwa Allah dapat mengambil tempat pada diri manusia ini, bertolak dari dasar pemikiran al-Hallaj yang mengatakan bahwa pada diri manusia terdapat dua sifat dasar, yaitu lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Ini dapat dilihat dalam bukunya bernama al-thawasin.
Faham al-Huluul dapat dikatakan sebagai lanjutan atau bentuk lain dari faham
(ajaran) al-ittihad yang dipopulerkan oleh Abu Yazid al-Bustami (874 M/ 261 H). Tetapi dua konsep ajaran ini berbeda. Dalam ajaran al-ittihad, diri manusia lebur dan yang ada hanya diri Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sedangkan dalam konsep al-Huluul-nya al-Hallaj, diri manusia tidak hancur. Dalam konsep al-ittihad yang dilihat satu wujud, sedangkan dalam konsep ajaran al-Huluul disana ada dua wujud tetapi bersatu dalam satu tubuh .
Helbert W. Mason mengatakan Al-Huluul adalah penyatuan sifat ketuhanan dengan sifat kemanusiaan. Tetapi dalam kesimpulannya konsep al-Huluul-nya al-Hallaj bersifat majaziy, tidak dalam pengertian yang sebenarnya (haqiqiy) . Menurut Nashiruddin at-Thusiy, al-Huluul adalah faham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifst-sifat kemanusiaan yang ada didalam tubuh itu dilenyapkan.
Sebelum Tuhan menjadikan makhluk. Ia hanya melihat diri-Nya sendiri. Dalam kesendian-Nya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan diri-Nya sendiri, yaitu dialog yang di dalamnya tidak terdapat kata ataupun huruf. Yang dilihat Allah hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya. Allah melihat kepada dzatnya dan Ia pun cinta pada
zat-Nya sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini. Ia pun mengeluarkan dari yang tiada bentk copy dari diri-Nya yang mempunyai sifat dan nama-Nya. Bentuk copy ini adalah Adam. Setelah menjadikan Adam dengan cara itu, Ia memuliakan dan mengagungkan Adam. Ia cinta pada Adam, dan pada diri Adam Allah muncul dalam bentuknya. Dengan demikian pada diri Adam terdapat sifat-sifat yang dipancarkan Tuhan yang berasal dari Tuhan sendiri.

makalah tafsir

MAKALAH TAFSIR
QS. AL – BAQARAH 267 – 268 & QS. AL MA’ARIJ19 – 25
PERILAKU ORANG YANG MENGAMALKAN& MEMANFAATKAN KEKAYAAN ALAM

Di susun oleh :

KHOIRU ROZIKIN
INA KAROMAH
SUSANTINUROHMAH
TRI MUSRIFAH

Kelas :
XI AGAMA








MADRASAH ALIYAH NEGRI 1 KOTA MAGELANG
JL. Raya Payaman No. 1
MAGELANG



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. Wb

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan petunjukNya, sehingga atas limpahanan rahmad dan petunjukNya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tanpa ada halangan suatu apapun.

Makalah ini kami susun secara kolektif dengan mengumpulkan data-data yang telah kami pelajari selama kurang lebih enam bulan dalam pembelajaran ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.

Namun penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, maka segenap saran dan kritik yang bersifat membangun penulis harapkan demi peningkatan dari makalah ini.

Akhirnya penulis berharap mudah – mudahan makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya, dan para pembaca umumnya.

Wassalamu’alaikum wr. Wb





















MOTTO

1. Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.
2. Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.
3. Orang yg kuat bukanlah orang yg mampu menjatuhkan/berkelahi dgn org tetapi orang yang kuat adalah orang yg mampu menahan amarahnya.
4. Dunia adl penyihir yg lebih hebat dari Harut dan Marut dan kamu harus menghindarinya.
5. Tinta para pelajar lebih suci daripada darah orang2 yg mati syahid
6. Ingin rasanya melupakanmu dalam kalbu ini, tetapi apa daya naluri enggan untuk beralih ingatan ke yang lain.
7. Walaupun bagaimana kecilnya cinta seseorang kepada Allah, maka yang demikian itu lebih aku senangi daripada beribadah tujuh puluh tahun.
8. Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya saja. Siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sekadarnya saja. Siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan menjadi orang yang kau cintai.
9. Jadikanlah engkau sumber tambang kebaikan, dan baikanlah segala kesalahan yang menyakitkan. Sesungguhnya engkau dapat melihat apa yang engkau lakukan dan dapat mendengar apa yang engkau ucapkan.























ISI

QS. Al - Baqarah 267 - 268


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (267) الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاً وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (البقرة:267، 268).
“ Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.“ (QS: Al-Baqarah: 267-268).
Ibnu Abas mengatakan: “ Dua perkara dari Allah dan dua dari setan,“ Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan“ seraya mengatakan: Jangan kamu infakan hartamu, biarkan ia menumpuk karena kamu akan membutuhkanya, “ Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan“. “ Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya“ atas kemaksiatan-kemaksiatan itu,“ Dan karunia“ dalam rezki “. Ampunan adalah perlindungan atas hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat, sedang karunia adalah keluasan rezki di dunia dan di akhirat serta kenikmatan di akhirat.
Dan diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah saw:
" قال الله تبارك وتعالى: يا ابن آدم، أنفق أنفق عليك " ( رواه مسلم)
“ Allah SWT berfirman: Wahai ibnu Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan memberi nafkah kepadamu“ ( HR: Muslim).
" ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما: اللهم أعط منفقاً خلفاً، ويقول الآخر: اللهم أعط ممسكاً تلفا " ( رواه البخاري )
“ Tiada pagi hari bagi hamba melainkan turun pada saat itu dua malaikat, salah satu dari mereka mengatakan: Ya Allah, berilakanlah kepada orang yang menginfakan (hartanya) penggantinya, yang kedua mengatakan: Ya Allah berikanlah kepada orang yang enggan berinfak kerusakan (atas hartanya).” (HR: Bukhari).
Dan sabda Rasul saw:
“ أنفق يا بلال، ولا تخش من ذي العرش إقلالاً ) “ رواه البيهقي وصححه الألباني(
“ Berinfakanlah ya Bilal, jangan khawatirkan kekurangan dari Sang Pemilik Arsy“.

Semua hadits di atas mengajak berinfak di jalan kebaikan, dan menyampaikan kabar gembira tentang akan diberikanya pengganti (atas harta yang diinfakan) dari karunia Allah SWT bagi orang yang berinfak, serta mengangkat kedudukannya di segenap hati manusia.
Keenam: Mengerjakan haji dan umrah secara berurutan.
Mengerjakan haji dan umrah secara berurutan termasuk diantara sebab yang mendatangkan keluasan rezki dan kemudahan urusan, dari Ibnu Mas’ud r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
" تابعوا بين الحج والعمرة، فإنهما ينفيان الفقر والذنبوب كما ينفي الكير خبث الحديد والذهب والفضة، وليس للحجة المبرورة ثواب إلا الجنة " (رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني )
“ Laksanakanlah haji dan umroh secara beriringan, karena ia dapat menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api melenyapkan karatan besi, emas dan perak, dan tidak ada balasan atas haji mabrur melainkan surga.”( HR: Tirmizi dan Nasa’I, dan disahihkan Imam Al-Bani).
" تابعوا بين الحج والعمرة، فإنهما ينفيان الفقر والذنوب كما ينفي الكير خبث الحديد " ( رواه النسائي وصححه الألباني)
“ Laksanakanlah haji dan umroh secara beriringan, karena ia dapat menghapus kefakiran dan dosa sebagaimana api melenyapkan karatan besi, emas dan perak.” (HR: Nasa’I dan disahihkan Al-Bani).
Melakukan secara beriringan antara haji dan umrah artinya: jadikanlah salah satu dari keduanya mengiringi yang lain, yakni: jika anda telah menjalankan haji maka lakukanlah umrah, dan jika anda telah menjalankan umrah maka lakukanlah haji, begitulah keduanya terjadi secara beriringan.
Nabi saw menjelaskan bahwa Allah SWT memberi rezki kepada hamba-hamba-Nya dan menolong mereka disebabkan kebaikan mereka kepada orang-orang lemah, dari Mus’ab bin Sa’ad r.a. berkata: Saad r.a. melihat bahwa dirinya memiliki kelebihan atas orang lain( orang lemah), maka Rasulullah saw bersabda:
" هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم " (رواه البخاري)
“ Kalian tidaklah mendapat pertolongan dan rezki melainkan disebabkan oleh orang-orang lemah diantara kalian“ (HR: Bukhari).
Orang-orang lemah yang dijelaskan Nabi saw bahwa berbuat baik kepada mereka dapat menjadi sebab datangnya rezki dan kemenangan terhadap musuh ada beberapa macam: diantara mereka ada kaum fuqara, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang sakit, orang-orang asing, para wanita yang tidak memiliki orang yang menanggung nafkahnya, dan budak. Bentuk berbuat baik kepada mereka berbeda-beda, berbuat baik kepada orang fakir yang tidak memilki harta dengan sedekah, hadiah, pemberian dan pertolongan, berbuat baik kepada anak yatim dan wanita (yang tidak memiliki orang yang menanggung nafkahnya) dengan memantau kondisi mereka dan membantu mereka dengan cara yang baik, sedang berbuat baik kepada orang-orang sakit dengan menjenguk mereka dan menganjurkan agar sabar dan senantiasa mengharap ridho-Nya... dan begitu seterusnya.
Wahai saudaraku tercinta, jika anda mengingkan kemenangan Allah SWT dan pertolongan-Nya serta keluasan rezki, maka berbuat baiklah kepada kaum lemah, muliakanlah mereka dan pantaulah kondisi mereka, dan ketahuilah bahwa berlaku buruk dan menyakiti mereka adalah sebab tertutupnya pintu rezki, dan dalam kisah para pemilik kebun yang Allah SWT ceritakan dalam surat al-qalam terdapat pelajaran dan nasehat yang berharga.
عن أبي هريرة عن النبي قال: إن الله تعالى يقول: يا ابن آدم، تفرغ لعبادتي أملاً صدرك غنى، واسد فقرك، وإن لا تفعل ملأت يدك شغلاً، ولم أسد فقرك " (رواه الترمذي وابن ماجه وصححه الألباني)
“ Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, ia bersabda,“ Sesungguhnya Allah SWT berfirman,“ Wahai anak Adam, totalitaslah dalam beribadah, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan menutup kefakiranmu, dan jika kamu tidak melakukanya, maka Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan dan menutup kefakiranmu.“ (HR: Tirmizi dan Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Bani).
وعن معقل بن يسار قال: قال رسول الله : يقول ربكم تبارك وتعالى: يا ابن آدم، تفرغ لعبادتي أملأ قلبك غنى، وأملأ يديك رزقاً. يا بان آدم، لا تباعدني فأملأ قلبك فقرا، وأملأ يديك شغلاً " (رواه الحاكم وصحح إسناده ووافقه الألباني)
“ Dan dari Ma’qal bin Yasar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda," Allah SWT berfirman,” Wahai anak Adam, totalitaslah dalam beribadah, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan kedua tanganmu denganmu rezki. Wahai anak Adam, janganlah engkau menjauhiku maka Aku memenuhi hatimu dengan kefakiran dan kedua tanganmu dengan kesibukan.” (HR: Hakim, dengan sanad disahihkan olehnya dan disepakati Al-AlBani).
Di dalam kedua hadits ini Allah SWT menjanjikan orang-orang yang totalitas dalam ibadah dengan dua hal, yaitu; memenuhi hatinya dengan kekayaan, kedua tangannya dengan rezki, dan mengancam orang yang enggan bertotalitas dengan dua sangsi, yaitu: memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tanganya dengan kesibukan, dan kita yakin jika Allah SWT telah mengkayakan hati seseorang, maka selamanya ia tidak akan pernah didekati kefakiran, dan jika Allah SWT memenuhi tanganya dengan rezki, maka selamanya ia tidak akan pernah merugi.
Totalitas dalam beribadah tidak berarti meninggalkan mata pencaharian dan terputus dari mencari rezki serta duduk di masjid siang dan malam, akan tetapi maksudnya adalah hendaklah seorang hamba datang dengan hati dan jasadnya saat beribadah, khusu‘ dan tunduk kepada Allah, menghadirkan keagungan penciptanya, merasakan bahwa ia sedang bermunajat kepada Sang penguasa langit dan bumi.

Rasulullah saw bersabda:
" من نزلت به فاقةٌ فأنزلها بالناس لم تسد فاقته، ومن نزلت به فاقة فأنزلها بالله فيوشك الله له برزق عاجل أو آجل " (رواه الترمذي وصححه الألباني)
“ Barang siapa menderita kefakiran lalu berlindung kepada manusia, maka itu tidak akan menutup kefakiranya, dan barang siapa mengalami kefakiran, lalu ia berlindung kepada Allah SWT, maka Allah akan memberinya rezki dengan segera atau tertunda.“ ( HR: Tirmizi, disahihkan Al-Albani).


QS. AL – MA’ARIJ 19 -25

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
إِلَّا الْمُصَلِّينَ
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ
لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

MEMANFATKAN MANFAAT

Sekilas Tentang Ikan Gabus dan Manfaatnya
Ikan gabus yang memiliki nama ilmiah Channa striatus merupakan ikan penghuni rawa banjir di perairan umum nusantara. Ikan ini termasuk jenis ikan predator dan sekerabat dengan ikan toman. Ciri-ciri dari ikan ini adalah tubuh bulat gilig pada bagian depan dan pipih pada bagian belakang. Sirip punggung memanjang dan membulat pada ujung sirip ekor. Kepalanya besar sedikit gepeng seperti kepala ular sehingga sering disebut Snakehead. Memiliki sisik besar pada kepalanya dan 4-5 sisik diantara gurat sisi dan bagian jari-jari sirip punggung bagian depan. Mulutnya besar dengan gigi besar dan tidak ada gigi bentuk taring pada vomer dan palatine.

Ikan gabus banyak ditemukan di sungai, rawa, danau dan sawah - sawah. Ikan ini hidup dengan memangsa ikan - ikan yang berukuran lebih kecil, serangga air, berudu dan udang-udang kecil. Jika keadaan habitatnya mulai mengalami kekeringan, ikan ini akan mengubur dirinya di dalam lumpur sampai keadaan mulai berair lagi. Hal ini karena ikan gabus memiliki semacam organ labirin sehingga memungkinkan ikan gabus dapat bernafas langsung dari udara.


Produksi benih ikan gabus dapat diperoleh melalui pemijahan alami maupun buatan dengan menggunakan HCG dan hormon ovatide. Ciri - ciri induk yang siap dipijah adalah induk betina mengalami matang gonad lebih besar ukurannya dibanding induk jantan dan perutnya membesar dan lembut. Ukuran diameter genital pore induk betina antara 2-4 mm berbentuk bulat. Pembesaran ikan ini dapat dilakukan di kolam, sungai, maupun danau dengan menggunakan karamba sebagai media pemeliharaan. Pemanenan dapat dilakukan apabila ikan yang dipelihara telah mencapai umur konsumsi. Jenis penyakit yang sering ditemukan pada ikan gabus adalah Lernaea cyprinacea, Argulus indicus, Lamproglena chinensis, Clinostomum sp., Proteocephalus sp., Camallanus sp., Spinetectus sp., dan Pallisentis sp.

Perlu diketahui bahwa ikan gabus banyak mengandung albumin, salah satu jenis protein darah yang diproduksi di hati. Albumin memiliki banyak sekali manfaat diantaranya dapat mengatur tekanan osmotik darah. Albumin akan mengontrol ketersediaan air dalam plasma darah sehingga volume darah dapat dipertahankan. Albumin juga diperlukan untuk proses pembentukan jaringan tubuh yang baru baik pada saat pertumbuhan maupun penyembuhan luka-luka. Dalam kehidupan sehari - hari albumin berfungsi sebagai sarana transportasi yang membawa bahan-bahan yang kurang larut dalam air melewati plasma darah dan cairan sel. Pengkonsumsian daging ikan gabus dan ekstrak proteinnya telah berhasil mampu meningkatkan kadar albumin dalam darah dan dapat mempercepat penyembuhan beberapa luka hingga 30 %.

Mengenal Kekayaan Alam : Budidaya dan Manfaat Pohon Sonokeling
Sonokeling tumbuh didaerah dengan musim kemarau sedang sampai kering ( paling tinggi 30 hari hujan dalam 4 bulan kering ). Jenis ini masih dapat tumbuh pada tanah jelek, berbatu-batu dan keras pada ketinggian 0-600 meter dari permukaan air laut.
Permudaan buatan sonokeling dilakukan dengan menggunakan stek akar yang panjangnya 15 cm dan diameter 1 cm. Permudaan dilakukan dengan stek akar karena sonokeling jarang sekali berbuah, seandainya berbuah terjadi pada Bulan Juni – Oktober. Daya kecambah biji sonokeling kecil sekali sehingga permudaannya biasa digunakan stek akar.
Kayu sonokeling meskipun keras masih dapat dikupas atau disayat untuk dijadikan venir hias.Venir ini dapat direkatkan dengan baik dalam pembuatan kayu lapis.
MANFAAT POHON SONOKELING :
Karena warna dan gambarnya yang indah, serta sesuai dengan sifat-sifat kayu yang dimiliki, maka sonokeling sangat bagus digunakan untuk pembuatan mebel, khususnya almari, meja, panil, barang ukiran, cindera mata, dll, dengan nilai jual yang tinggi. Sonokeling cocok juga untuk pembuatan barang-barang yang perlu dilengkungkan.


PRODUKSI dan INDUSTRI KAYU SONOKELING :
Setelah sonokeling mencapai usia lebih kurang 40 tahun, kayu siap dipanen. Hasil produksinya berupa kayu bundar sonokeling ( kayu log ) yang selanjutnya kan diolah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi di penggergajian.
Industri Penggergajian Mesin ( PGM ) Perum Perhutani menghasilkan barang setengah jadi berupa moulding / kayu gergajian, serta industri jadi / finished product berupa : pintu, furniture dengan orientasi pasar ekspor.

Sabtu, 29 Januari 2011

mantan



Tips Melupakan Mantan


Metrotvnews.com, Jakarta: Cinta, tak selamanya manis dan membuat bahagia. Ada yang bilang kalau mencintai seseorang itu pedih, apalagi jika sudah mencintai sepenuhnya, namun malah dikecewakan dan ditinggalkan. Oh, sakit rasanya hati ini. Benarkah? Kali ini, Woman dapat masukan dari Miss CC, agar berbagi tips dengan para pembaca yang sering sekali memiliki kesulitan dalam melupakan sang mantan.

Memang sih, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk beranjak dari kepedihan luka putus hubungan. Dan melupakan seseorang, adalah suatu hal yang hampir mustahil, kecuali jika Anda hilang ingatan, persis seperti kata Miss CC. Tapi jangan dong, jangan sampai Anda memaksa untuk cuci otak dan menghilangkan semua kenangan dan memori Anda, sekalipun hal itu menyakitkan. Anda sudah dewasa, sudah seharusnya menghadapi semua masalah dengan cara yang dewasa pula. Jadi, intip saja tips berikut yang bisa bikin Anda lupa pada mantan dan kembali menikmati dan menjalani hidup.

1. Simpan semua barang kenangan dalam kotak

Jika Anda punya barang kenangan antara Anda da n si dia, misalnya foto, jam, boneka, bunga, perhiasan, dan lain sebagainya. Masukkan dalam sebuah kotak dan segera segel. Biarkan semua barang tersebut di dalam kotak dan jangan dibongkar, apalagi ditangisi. Dengan demikian, Anda menyimpan pula rasa pedih dan kecewa Anda di dalam kotak tersebut (ya setidaknya anggap saja demikian).

2. Sibukkan diri Anda!

Menangis dan memeluk bantal berhari-hari? Oh, itu kan dulu. Saat ini, boleh saja Anda menangis, tetapi cukup sehari saja. Kasihan dong bantal yang Anda peluk jadi basah semua. Usap air mata Anda, singkirkan minuman keras, rokok, dan semua benda tak berharga itu. Saatnya bangkit dan melakukan kegiatan positif yang baik untuk Anda. Jika mungkin Anda masih bingung apa yang akan Anda lakukan, bagaimana kalau dimulai dengan spa dan massage di salon. Kedengarannya enak kan?

3. Saatnya berolahraga!

Putus dari sang pacar kemudian terlihat kusam dan gemuk? Oh, jangan sampai! Justru saat putus dari si dia, Anda tak boleh terpuruk dan menyiksa kecantikan Anda. Tetap berolahraga, usir semua lemak dari dalam tubuh. Yoga dan berolahraga agar Anda tetap bisa fresh dan stres Anda tersalurkan. Selain itu, jika Anda tampak semakin langsing dan cantik, tak memungkiri ada pria lain yang akan tertarik pada Anda kan? Siapa tahu dia lebih tampan dan baik hati. (Kpl/**)

Jumat, 21 Januari 2011

short stories my first love


This is one of the memories in my life that hopefully this will not be lost forever, which I first entered the upper levels of schooling in a state that knew him so exciting. do not know why I can know him so, but I did not know him then, just because I play guitar in his class and finally through his friends I can introduce him. yes, I have not introduced, he named SITI ROLIAH and he comes from GONDORIO Ambarawa SEMARANG, through greeting from his friends in the end he first sweet like me. miss someone who has never known that I, after a few then I know more about it I immediately shot her love and I finally was able to penetrate his heart on May 15, 2010, very close relationship with him, and after some time we finally broke at love middle of the road because of the conflict that we both can not be completed by adults so sick that I was feeling at the moment but over time we have become accustomed together and even now we do not have anything, we still enjoy together, joking, even stories about her own respectively.
though so sometimes when I often miss and miss, but it would not mind because things like that is humane and it's natural, hopefully with us once in a relationship in this world tomorrow in the afterlife we could meet again in heaven, amiiiiiin ....

Selasa, 11 Januari 2011

b. inggris

school uniform, another good lesson
school uniform is special clothes worm by all students of a particular school. the uniform of a school may differ from other. why should schools use uniform? below are some reasons
first of all, Notre Dame's Department of Sociology produced a study in 1998 concerning school uniform. their findings using 10th grade students showed that uniforms have no direct of effect on "substance abuse, behavioral problems or attendance". it also claimed a negative effect on student achievements for those students considered 'pro-school'.
secondly, uniform helps to create a strong sense school ethos and a sense of belonging to a particular community. as such it promotes discipline and helps drive up academic standards, which is why a uniform is often adopted by schools which are being reopened with a fresh start after being classified as failing.

finally, uniform acts as a social leveler, under which all students are equal in the eyes of the school and of each other. in institutions without uniform students are often competitive and worry endlessly about their appearance and the clothes they should wear. pupils without expensive designer clothes and trainers may be singled out as social outcasts, or stigmatized as being from poor backgrounds. for these reasons many parents prefer uniform as they save them money on buying clothes for school wear.
considering the findings, i suggest that schools should implement the uniform as their identity. the government should also publish some kind of rule which makes uniform compulsory for schools.

seragam sekolah, pelajaran lain yang baik
seragam sekolah khusus pakaian cacing oleh semua siswa dari suatu sekolah tertentu. seragam sekolah mungkin berbeda dari yang lain. mengapa harus sekolah menggunakan seragam? bawah ini adalah beberapa alasan
pertama-tama, Notre Dame Departemen Sosiologi menghasilkan penelitian pada tahun 1998 tentang seragam sekolah. temuan mereka menggunakan siswa kelas 10 menunjukkan bahwa seragam tidak langsung berpengaruh pada "masalah penyalahgunaan zat, perilaku atau kehadiran". itu juga diklaim efek negatif terhadap prestasi siswa bagi siswa yang dianggap 'pro-sekolah'.
kedua, seragam membantu menciptakan sebuah sekolah etos rasa yang kuat dan rasa milik sebuah komunitas tertentu. seperti itu mempromosikan disiplin dan membantu menaikkan standar akademis, itulah sebabnya mengapa seragam sering diadopsi oleh sekolah-sekolah yang sedang dibuka kembali dengan sebuah awal baru setelah diklasifikasikan sebagai gagal.
akhirnya, bertindak seragam sebagai menyamaratakan sosial, di mana semua siswa adalah sama di mata sekolah dan satu sama lain. di lembaga-lembaga tanpa siswa seragam sering kompetitif dan tanpa henti khawatir tentang penampilan mereka dan mereka harus mengenakan pakaian. murid tanpa pakaian desainer mahal dan pelatih dapat dikatakan sebagai orang buangan sosial, atau stigma sebagai dari latar belakang miskin. untuk alasan-alasan ini banyak orangtua lebih memilih seragam karena mereka menyelamatkan mereka uang untuk membeli pakaian untuk dipakai sekolah.
mengingat temuan, saya sarankan bahwa sekolah harus menerapkan seragam sebagai identitas mereka. pemerintah juga harus menerbitkan semacam aturan yang mewajibkan seragam untuk sekolah.

Senin, 10 Januari 2011

bahasa indonesia tajuk rencana

Senin, 20 April 2009 04:01
Gelar Kelima Nadal



Rafael Nadal melanjutkan dominasinya di lapangan tanah liat dengan menjuarai turnamen ATP Masters 1000 Monte Carlo, Minggu (19/4). Nadal memenangi gelar kelimanya berturut-turut di turnamen ini dengan mengalahkan Novak Djokovic, 6-3, 2-6, 6-1.
Meski tetap mempertahankan dominasinya di tanah liat, Nadal tak memperoleh gelarnya dengan mudah. Djokovic memberikan perlawanan sengit, terutama di set kedua, yang menjadi salah satu penampilan terbaiknya di lapangan tanah liat.
Sang juara bertahan memulai aksinya dengan mematahkan servis Djokovic di game pertama set pertama. Namun, petenis Serbia itu ganti mematahkan servis Nadal di game berikutnya untuk menyamakan kedudukan. Kedua petenis kemudian bergantian saling mematahkan servis hingga kedudukan 3-3 sebelum Nadal merebut tiga game berikutnya dan memenangi set pertama.
Djokovic bangkit di set kedua dengan langsung mematahkan servis Nadal di game pertama. Setelah itu, beberapa kali pukulan winner-nya membuat Nadal mati langkah. Pukulan keras Djokovic ke garis belakang juga menjauhkan Nadal dari net sehingga tak dapat mengembangkan permainan.
Djokovic sekali lagi mematahkan servis Nadal di game kelima dan merebut set kedua dengan mempertahankan servisnya di game kedelapan.
Ketangguhan Nadal di lapangan tanah liat teruji di set terakhir. Beberapa kali pukulan silangnya menerobos pertahanan Djokovic. Begitu juga backhand dan forehand down the line yang tipis menyusur tepi lapangan tak mampu dikembalikan dengan baik oleh Djokovic.
Djokovic hanya berhasil meraih satu game ketika mematahkan servis Nadal di game kedua. Nadal melaju dan menutup pertandingan dalam waktu 2 jam 43 menit ketika backhand Djokovic menyangkut di net.
Ini adalah kemenangan ke-12 Nadal atas lawannya yang peringkat ketiga dunia dari 16 pertemuan keduanya. Djokovic hanya menang empat kali dan kesemuanya berlangsung di lapangan keras. Adapun Nadal memborong tujuh kemenangan dari tujuh kali duel di lapangan tanah liat, termasuk di final Monte Carlo tahun ini.
Dengan sukses tersebut, Nadal menjadi petenis pertama yang mampu merebut lima gelar di Monte Carlo. Lebih istimewa lagi, kelima gelar itu diperolehnya secara berturut-turut.
10 tahun
Untuk pertama kali dalam 10 tahun terakhir, dua remaja belasan tahun bertemu di final WTA Premier Charleston. Petenis Denmark, Caroline Wozniacki (18), dan Sabine Lisicki (19) maju ke final mengulangi duel Martina Hingis dan Anna Kournikova pada final 1999.
Wozniacki (Denmark) meneruskan langkah gemilangnya dengan menundukkan unggulan teratas Elena Dementieva (Rusia), 6-4, 5-7, 7-5. Dementieva lolos dari tiga match point di set kedua, tetapi Wozniacki tak tertahan merebut set ketiga.
Lisicki (Jerman) lolos lebih mudah dengan kemenangan dua set langsung atas unggulan keenam Marion Bartoli (Perancis), 6-3, 6-1. "Kami berdua semakin hari tampil semakin baik. Pasti akan menjadi final yang bagus,"ujar Lisicki.



Aroma Limbah di Nusa Indah
Kamis, 6 Januari 2011 10:11 Borneo Tribune
Keluhan warga komplek rumah toko (ruko) di kawasan Jalan Nusa Indah II sebetulnya sudah lama. Bahkan keluhan itu muncul setelah beberapa tahun berdiri hotel Kini yang dulunya adalah bangunan Bioskop Nusa Indah.
Setelah disulap menjadi hotel berbintang, didukung tempat yang strategis hotel tersebut memang ramai pengunjung. Karena ramai pengunjung itu pula, maka panci penampung limbah yang hanya selebar satu meter itu tidak memadai lagi, sehingga limbah kotoran dari hotel tersebut menyembut kemana-mana termasuk merayap ke 11 ruko di sampingnya.
Sebetulnya kalau semua pihak utamanya investor bila taat saja dengan aturan amdal termasuk prediksi radius limbah yang aman bagi penduduk sekitar, maka aroma tak sedap di Nusa Indah tersebut tidak akan terjadi. Sebab sejak awal pengelola sudah bisa memperhitungkan mulai dari daya tampung hingga prediksi normal limbah tersebut bisa ditangani.
Atau bisa juga menggunakan teknologi pengolahan limbah yang canggih, seperti yang diterapkan oleh beberapa rumah sakit di kota ini. Selama ini limbah yang terbuang adalah limbah yang sudah ramah lingkungan. Artinya selain tidak menimbulkan bau yang tak sedap, juga tidak membahayakan lingkungan lainnya.
Belajar dari banyak pengalaman, persoalan limbah ini amat serius. Apalagi ada pemukiman atau masyarakat lain di sekitarnya. Makanya penanganan limbah harus ekstra hati-hati. Sebab dia tidak hanya menyemburkan limbah dan bau tak sedap saja, tapi dampaknya bisa menyembabkan berbagai sumber penyakit.
Oleh karena itu, kita ingin pihak yang berkompeten dalam hal ini Walikota Pontianak harus cepat mencari solusi terbaik. Minimal minta pihak manajemen hotel segera mengatasi masalah limbah yang sudah meresahkan masyarakat sekitar itu.
Selain sikap tanggap sang Walikota melalui dinas terkait, pihak DPRD Kota juga kiranya cepat melakukan pengecekkan lapangan. Sebab hasil telaan dan pantauan lapangan langsung sangat bermanfaat sebagai masukan kepada Walikota yang mempunyai kebijakan dan perijinan kepada para investor atau dunia usaha.
Kita yakin, persoalan limbah baik rumah tangga maupun industri termasuk restoran ada terjadi di daerah lain. Cuma yang membedakan mungkin efek dari limbah itu sendiri.
Di Nusah Indah limbahnya parah, mungkin di tempat lain belum seberapa. Tapi semua pihak, baik pemerintah, wakil rakyat termasuklah LSM yang peduli dengan lingkungan bolehlah mengkaji semua industri termasuk hotel restoran yang ada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Sebab kita tidak ingin ada aroma lain seperti di Nusa Indah tersebut. Cukuplah limbah hotel Kini di Nusa Indah itu yang bakal menjadi PR stakeholder kedepan.